Paska Perang dengan Amerika Afganistan Membutuhkan Genset dan Alat Berat untuk Pembangunan

Tak lama setelah Amerika menyerang Afghani stan pada 2001, saya memasuki negara itu melalui sisi Timur. Menaiki dan menuruni gunung berbatu, melintasi kota-kota yang separuh utuh, melewati pinggir jalanan jurang-gunung Khyber Pass yang runcing seperti taring monster raksasa. Karena akibat perang infrastruktur di afganistan porak poranda sehingga banyak jalan yang rusak, rumah , gedung rumah sakit yang hancur. Untuk itu di perlukan banyak alat berat, material serta genset untuk memulihkan kondisi di afganistan. Salah satu pen – jual genset 25 kva di Indonesia biasa mensupply genset ke seluruh dunia, yakni PT Rajawali Indo Utama.

Setiap saya singgah di sebuah kota, hal pertama yang paling mencolok–selain soal beberapa puing–adalah ketidakhadiran perempuan. Hampir semua manusia yang saya lihat di setiap kota adalah pria. Perempuan hanya muncul di kota besar seperti Kabul, itupun tenggelam dalam burqa biru. Sejak Taliban muncul (bahkan setelah mereka tenggelam), perempuan memang disimpan dalam rumah, tak boleh bekerja dan sekolah. Jika harus keluar, mereka harus didampingi suami, ayah, atau anak laki-laki yang sudah mulai besar. Seorang wartawan dari Eropa berkata, “Pantaslah mereka selalu berperang, pria terlalu dominan.” Asumsinya belum tentu benar.

Tapi, mungkin tak terlalu salah. Kota-kota di Afghanistan adalah contoh ekstrem dari dominasi tersebut. Dalam versi yang jauh lebih ringan, kita bisa melihat dominasi pria di kota-kota manapun di dunia. Hampir semua kota di dunia dibangun oleh para pria, arsitek, kontraktor, desainer, planner, hingga tukang. Mulai dari Tebes dan Luxor dari zaman Firaun Mesir, hingga New York dan London di masa modern. Demikian juga dengan Jakarta. Mungkin hanya tiga kota yang dibangun oleh perempuan: Beth Horon Atas, Beth Horon Bawah, dan Uzzen Sheerah yang dibangun oleh Sheerah, seorang perempuan yang diceritakan dalam Alkitab Ibrani. Tidak dijelaskan secara pasti seperti apa kota yang dibangun oleh seorang wanita. Bulan lalu, dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia, CNN Online menurunkan sebuah reportase tentang para arsitek perempuan dan peran mereka di dunia arsitektur. Tulisan tersebut diturunkan karena ada kekhawatiran akan dominasi pria yang masih terlalu kuat di profesi ini. Merujuk pada survei yang dilakukan oleh American Institute of Architects, dua tahun lalu, diketahui bahwa ada ketimpangan perlakuan gender di profesi ini. “Women strongly believe that there is not gender equity in the industry,” begitu salah satu kesimpulan penelitian tersebut di Amerika Serikat. Para arsitek perempuan digaji lebih rendah dari arsitek pria (dengan jabatan yang sama), dihambat promosi kariernya, diragukan kemampuannya oleh klien, atau akses untuk masuk dalam komunitas dihambat. Kekhawatiran yang sama muncul dari negara yang juga demokratis dan maju, Inggris.

 

Di sana jumlah arsitek perempuan berkurang. Sebuah survey yang dilakukan oleh Te Guardian menunjukkan bahwa jumlah arsitek perempuan di frma-frma arsitek berkurang dari 28 persen menjadi 21 persen antara 2009-2011. Hal ini dikarenakan mahasiswi arsitek menyusut dari tahun ke tahun. “For a woman to go out alone in architecture is still very, very hard,” kata arsitek Zaha Hadid yang meninggal dua tahun lalu. “It’s still a man’s world.” Yang menarik adalah sebuah survei yang dilakukan oleh Dezeen.com beberapa waktu lalu. Dari survei tersebut diketahui bahwa hanya 3 dari 100 frma arsitektur terbesar di dunia yang dipimpin oleh wanita. Uniknya, ketiganya ada di kawasan Skandinavia. Dari 100 itu, hanya dua frma yang jumlah wanita dan pria di tim manajemennya sama. Sayangnya, tidak ada kajian detail tentang hal ini di Indonesia. Sejumlah arsitek yang kami hubungi mengatakan bahwa mereka tidak mengalami diskriminasi berdasarkan gender dalam pekerjaan mereka. Hal yang sama juga muncul saat kami menanyakannya kepada para desainer interior atau landscaper yang berada dalam industri yang sama. Meski demikian, itu tidak memastikan tidak adanya ketidaksetaraan dalam industri ini. Sebuah kajian yang lebih mendalam diperlukan untuk memastikannya. Yang jelas arsitek Wendy Djuhara mengakui bahwa arsitektur masih dipandang sebagai dunia ‘patriarki’. “Arsitektur itu bidang yang berat untuk wanita. Arsitek mirip dengan pelari marathon, bukan sprinter. Arsitek memerlukan totalitas, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Sementara wanita juga berperan sebagai ibu, punya anak dan keluarga. Hal itu yang membuat arsitek wanita harus punya ketahanan lebih,” kata Wendy kepada Donny Amrin .

 

Meski demikian, Wendy tidak pernah direndahkan oleh klien karena dia perempuan. Ia dan suaminya, Ahmad Djuhara, selalu maju bersama ke klien di bawah bendera Djuhara – Djuhara. Kadang konsep dan desain Wendy yang dipilih, kadang desain suaminya. Hal yang sama dikatakan oleh desainer interior Rieska Achmad. “Hingga sekarang saya tidak merasakan itu. Belum ada klien yang gagal kontrak karena saya perempuan,” kata dia kepada Ninin Rahayu . Perlakuan yang merendahkan tidak datang dari klien, tapi dari pekerja di lapangan. “Di dunia konstruksi yang kebanyakan pekerjanya laki-laki. Tidak jarang ada tukang yang bersiul saat melihat arsitek wanita di proyek,” kata Wendy. Untuk mengatasi hal seperti ini, landscaper Ira Puspa Kencana punya tips: “Kalau kita tangguh dan pandai membawa diri, mereka juga segan.” Di luar soal isu gender di atas, Susanna Rustin menulis artikel menarik soal apa yang terjadi jika perempuan yang membangun kota-kota. Seperti apa kota-kota itu nantinya? Yang ditanyakan oleh Rustin bukan bentuk bangunan di kota itu. Pertanyaannya bukan apakah nanti kota tersebut akan dipenuhi oleh bangunan-bangunan berkurva ala Zaha Hadid? Pertanyaan ini muncul karena, seperti kita tahu, dominasi pria dalam industri ini (arsitek, kontraktor, desainer, dll) membuat kota-kota dibuat lewat kacamata para pria. Itu membuat ukuran kebutuhan dan kenyamanan yang dipakai adalah ukuran dari sudut pandang pria. Salah satu contohnya adalah saat arsitek legendaris Le Corbusier menyatakan ide agar bangunan dan kota dibuat dalam skala manusia (human scale), semua orang setuju. Ia menamai proporsinya ini sebagai Modulor. Pintu, anak tangga, meja, kursi, atap, tiang, semuanya harus dibuat dalam proporsi manusia hingga orang yang tinggal di dalamnya nyaman. Masalahnya, “manusia” yang dimaksud oleh Corbu adalah ukuran rata-rata pria Prancis, sekitar 175 centimeter, bahkan kemudian diubah menjadi 183 centimeter. Wendy Davis, salah seorang pendiri Women’s Design Service mempertanyakan proporsi ini. “Terus terang saja, perempuan lebih pendek dari itu. Bagaimana dengan anak-anak?” Tentu, pendapat ini bisa dibantah dengan mengatakan bawa kalau begitu tidak akan ada proporsi yang pas untuk semua orang. Tentu saja itu betul, tapi jika arsitek atau desainer perempuan lebih banyak, bahkan jumlahnya seimbang dengan pria, ada pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk mengubah sedikit sudut pandang. Yang diserap oleh para pembangun ke dalam bangunan bukan sekadar apa yang dibutuhkan oleh pria dan menjadikan pria sebagai satu-satunya tolok ukur kenyamanan universal

Leave a Reply